Tangsel Jadi Sorotan! Rais Aam PBNU Hadir di Pelantikan PCNU, Ini Tantangan Besarnya

Aksi 09 Aug 2026 16:46 5 min read 209 views By Gus Isqowi
Tangsel Jadi Sorotan! Rais Aam PBNU Hadir di Pelantikan PCNU, Ini Tantangan Besarnya
Tangsel Jadi Sorotan! Rais Aam PBNU Hadir di Pelantikan PCNU, Ini Tantangan Besarnya

Pelantikan PCNU Tangsel 2026–2031: Menanam Khidmah, Merawat Harapan di Kota yang Terus Tumbuh 

TANGERANG SELATAN — Ada suasana berbeda dalam pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan masa khidmat 2026–2031. Bukan semata karena 139 pengurus resmi menerima amanah untuk lima tahun ke depan, tetapi juga karena momentum tersebut dihadiri langsung Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftahul Akhyar. Kehadiran beliau menjadi kehormatan tersendiri sekaligus memberikan nuansa spiritual yang kuat pada prosesi yang berlangsung di Graha Aswaja II, Pondok Aren. Di hadapan ratusan undangan, pelantikan itu seakan menjadi penanda bahwa perjalanan sebuah kepengurusan baru telah dimulai — bukan sekadar dengan susunan nama dan jabatan, melainkan dengan harapan agar NU semakin terasa kehadirannya di tengah masyarakat Tangerang Selatan.

Wali Kota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, memberikan apresiasi terhadap kiprah NU sekaligus membuka ruang kolaborasi yang luas antara pemerintah daerah dengan PCNU beserta lembaga dan badan otonomnya. Pemerintah Kota, menurutnya, mempersilakan berbagai unsur di lingkungan PCNU untuk menjalin kerja sama dengan dinas-dinas yang ada di Kota Tangerang Selatan. Pesan ini menjadi penting karena Tangsel adalah kota yang terus bergerak dengan karakter masyarakat yang semakin beragam. Di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan, perubahan pola komunikasi, perkembangan teknologi, serta kebutuhan sosial yang semakin kompleks, organisasi keagamaan seperti NU dituntut bukan hanya mampu menjaga tradisi, tetapi juga sanggup membaca perubahan dan menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam kerja nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. 

Ketua PCNU Tangerang Selatan, KH Abdullah Mas’ud, dalam sambutannya menegaskan tekad kepengurusan baru untuk membawa NU semakin hadir dan memberikan manfaat. Komitmen tersebut dirumuskan melalui Nawa Saka Khidmah PCNU Tangsel, sembilan pilar yang menjadi arah pengabdian selama masa khidmat 2026–2031. Di dalamnya terdapat agenda penguatan organisasi, sensus warga NU, kaderisasi, pendidikan, ekonomi, kesehatan, filantropi, dakwah, serta kemandirian organisasi. Jika seluruh agenda tersebut mampu diterjemahkan secara konsisten hingga MWCNU dan ranting, maka Nawa Saka Khidmah tidak berhenti sebagai dokumen program kerja, tetapi dapat menjadi jalan panjang untuk menghadirkan NU yang lebih tertata, lebih dekat dengan warga, dan lebih mampu menjawab kebutuhan zaman.

Hal ini menjadi semakin relevan karena tantangan NU hari ini tidak hanya berada pada persoalan mempertahankan eksistensi organisasi. NU memiliki modal sosial yang besar, jaringan pesantren yang luas, para kiai, ulama, akademisi, profesional, pengusaha, guru, dai, serta generasi muda yang tersebar di berbagai bidang. Persoalannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dipertemukan dalam sebuah gerak bersama. Organisasi yang besar membutuhkan konsolidasi agar kekuatan tidak berjalan sendiri-sendiri. Lembaga membutuhkan koordinasi agar tidak sekadar memiliki struktur. Ranting membutuhkan perhatian agar tidak menjadi nama yang hanya tercantum dalam daftar kepengurusan. Dan kaderisasi menjadi penting agar estafet perjuangan tidak berhenti pada generasi yang sekarang.

Karena itu, perhatian Rais Syuriyah PCNU Tangsel, KH Himam Muzzahir, terhadap penguatan manajemen dan konsolidasi internal menjadi bagian penting dari perjalanan kepengurusan baru ini. Sebanyak 18 lembaga yang berada dalam struktur PCNU Tangsel perlu segera diperkuat dan dikukuhkan agar masing-masing mampu menjalankan fungsi pelayanan sesuai bidangnya. Mulai dari RMI, LTN, LP, LPP, LPT, LD, LBM, LTM, LAZIS, LPBI, LPBH, LWP, LKK, LK, LAKPESDAM, LF, LP Ma’arif, hingga LESBUMI. Banyaknya lembaga tersebut sesungguhnya merupakan kekayaan organisasi, tetapi sekaligus menjadi pekerjaan rumah: bagaimana membuat semuanya bergerak dalam satu irama, saling menguatkan, dan tidak terjebak pada kesibukan internal masing-masing. 

Di titik inilah penguatan ranting dan kaderisasi menjadi sangat strategis. NU tidak akan pernah benar-benar kuat hanya karena struktur di tingkat cabang terlihat kokoh. Kekuatan sesungguhnya berada di bawah, di tempat warga berkumpul dan menjalani kehidupan sehari-hari. Di masjid, majelis taklim, pesantren, madrasah, sekolah, lingkungan perumahan, kampung-kampung, dan ruang-ruang sosial masyarakat. Sebab NU pada akhirnya bukan hanya organisasi yang berada di atas kertas. NU adalah jam’iyyah yang hidup karena ada warga yang merasa memiliki, ada kader yang bersedia bekerja, ada kiai yang membimbing, dan ada pengurus yang mau turun tangan. Karena itu, program besar akan menemukan maknanya ketika manfaatnya benar-benar sampai kepada warga di tingkat paling bawah.

Kepengurusan PCNU Tangsel periode 2026–2031 tentu menghadapi medan pengabdian yang tidak sederhana. Tangerang Selatan berkembang menjadi salah satu kawasan perkotaan yang dinamis. Generasi mudanya hidup dalam ekosistem digital, masyarakatnya semakin heterogen, sementara persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, lingkungan, hingga persoalan spiritual terus berkembang. Dakwah pun tidak lagi hanya berlangsung di mimbar. Ia hadir di ruang digital, media sosial, komunitas, kampus, tempat kerja, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Karena itu, NU dituntut mampu mempertahankan akar tradisinya sekaligus menemukan cara baru agar pesan keagamaannya tetap dekat dengan generasi yang terus berubah.

Dalam konteks itulah pelantikan ini layak dibaca lebih dari sekadar seremoni organisasi. Ia merupakan titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Lima tahun masa khidmat mungkin akan dipenuhi rapat, program, konsolidasi, perbedaan pendapat, dinamika organisasi, dan berbagai tantangan yang tidak semuanya dapat diprediksi hari ini. Namun di atas seluruh dinamika itu terdapat satu kata yang semestinya menjadi ruh: khidmah. Sebab menjadi pengurus NU pada hakikatnya bukan hanya mendapatkan posisi, tetapi menerima amanah untuk bekerja bagi umat. Ukurannya bukan seberapa sering nama disebut, seberapa banyak kegiatan digelar, atau seberapa besar panggung yang dimiliki, melainkan seberapa jauh kehadiran organisasi memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

Maka dari Graha Aswaja II, Pondok Aren, sebuah perjalanan baru telah dimulai. Para pengurus telah dilantik, arah perjuangan telah dirumuskan, pintu sinergi telah dibuka, dan masyarakat menunggu karya nyata. Semoga NU Tangerang Selatan lima tahun ke depan tidak hanya semakin besar dalam struktur, tetapi juga semakin dalam akarnya, semakin luas manfaatnya, semakin kuat kadernya, dan semakin dekat dengan masyarakat. Sebab organisasi yang hidup bukanlah organisasi yang sekadar ramai ketika dilantik, melainkan yang tetap bekerja ketika tepuk tangan telah reda. Dan pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah siapa saja yang pernah berdiri di panggung pelantikan, tetapi apa yang mereka tinggalkan setelah amanah itu dijalankan. 

 

Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Ia mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual sebagai pendekatan dakwah untuk mengajak manusia kembali kepada Allah. 

Chat with us on WhatsApp