Haul Ke-30 KH. Mastur Asya: Warisan Pendidikan yang Melahirkan Delapan Jalan Pengabdian
Warisan Seorang Kiai: Delapan Putra-Putri, Delapan Jalan Pengabdian
Haul Ke-30 Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bawang
BAWANG, BATANG, JATENG — Ada ulama yang dikenang karena kitab-kitabnya. Ada yang dikenang karena pesantrennya. Namun ada pula yang terus hidup melalui anak-anak dan murid-muridnya yang menebarkan manfaat di berbagai penjuru kehidupan. Begitulah suasana yang terasa dalam Haul Ke-30 Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya yang digelar di Komplek Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ratusan jamaah, santri, alumni, dan masyarakat larut dalam doa, tahlil, khataman Al-Qur'an, manaqib, Yasin Fadhilah, hingga pengajian umum sebagai ungkapan cinta kepada ulama yang telah mengabdikan hidupnya untuk dakwah dan pendidikan.
Dalam tausiyahnya, KH. Syukri Maulana dari Blado menyampaikan pesan yang begitu membekas.
"Anak seorang kiai tidak harus semuanya menjadi kiai. Yang terpenting adalah tetap membawa ruh perjuangan orang tuanya melalui jalan hidup yang Allah tetapkan."
Kalimat itu seperti menggambarkan perjalanan keluarga besar KH. Mastur Asya.
Al-Maghfurlah bersama Nyai Hj. Sukarni Naomi melahirkan delapan putra-putri. Sebelum melanjutkan pendidikan ke berbagai pondok pesantren dan perguruan tinggi, seluruh putra-putri beliau terlebih dahulu ditempa langsung dalam lingkungan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bawang. Di pesantren yang dirintis oleh kedua orang tuanya itulah mereka belajar dasar-dasar ilmu agama, adab, kedisiplinan, serta nilai-nilai keikhlasan yang kemudian menjadi bekal dalam menapaki jalan pengabdian masing-masing.
Dua di antara mereka telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah saat masih belia. Sementara putra-putri yang tumbuh dewasa kemudian melanjutkan pendidikan di berbagai pesantren ternama dan mengabdikan diri di beragam bidang kehidupan, dengan tetap membawa ruh perjuangan yang diwariskan orang tua mereka.
Putra sulung, Dr. (HC) KH. RT. Isqowi Indaddien Masya, S.Ag., M.M. (Gus Isqowi), di samping menimba ilmu langsung kepada Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bawang, juga menjalani pendidikan sebagai santri kalong di Pondok Pesantren Asasul Huda Klawen. Selanjutnya, ia memperdalam ilmu di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak dan PP. Nurul Ummah Yogyakarta. Berbekal pendidikan pesantren yang kuat, ia memilih memperluas medan dakwah. Kini dikenal sebagai Founder Rumah Dai, sebuah lembaga dakwah kemanusiaan, sekaligus penggerak berbagai program dakwah, pembinaan masyarakat, dan pengembangan sumber daya dai yang kiprahnya menjangkau berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Putra kedua wafat ketika masih bayi dan belum sempat diberi nama. Meski hanya sebentar hadir di dunia, kehadirannya tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah, kasih sayang, dan doa keluarga.
Putra ketiga, KH. RT. Moch. Suhaely, S.Ag. (Gus Hely), memilih tetap melanjutkan estafet perjuangan sang ayah di tanah kelahirannya. Setelah ditempa langsung di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bawang, ia memperdalam ilmu di PP. Sirojul Mukhlasin Payaman, Magelang, dan PP. Nurul Ummah Yogyakarta. Kini, Gus Hely mengemban amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bawang sekaligus aktif mengembangkan Lembaga Dakwah Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (LD -TQN) di Kabupaten Batang.
Putra keempat, M. Ali Ridho Masya (Gus Ridho), mengabdikan diri di lingkungan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI. Dari ruang kelembagaan negara, ia berkontribusi menjaga integritas demokrasi dengan tetap membawa nilai-nilai amanah yang ditanamkan keluarga pesantren.
Putra kelima, Wahab Sonil Aroba, juga telah berpulang ke rahmatullah saat berusia tiga bulan. Namanya tetap dikenang sebagai bagian dari keluarga besar KH. Mastur Asya.
Putra keenam, H. Khomsurrijal Wahibudiyak, S.Ag. (Gus Khomsurrijal), alumnus PP. Futuhiyyah Mranggen dan PP. Wahid Hasyim Yogyakarta, memilih dunia jurnalistik sebagai ladang dakwah. Berkiprah sebagai Pemimpin Redaksi surat kabar nasional, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai staf Khusus Utusan Presiden RI.
Putra ketujuh, M. Awan Jundan Masya, S.Ag. (Gus Jundan), alumnus PP. Darul Amanah Sukorejo Kendal, menekuni dunia usaha. Dari Kota Solo, ia mengembangkan usaha ritel sekaligus membuka pelayanan perjalanan haji dan umrah, menghadirkan semangat santri dalam dunia kewirausahaan.
Putri bungsu, Nyimas Setyo Intahaina Fil Fitriyati (Neng Inta), alumnus Pondok Pesantren Mambaul Falah Sampangan, Pekalongan, melanjutkan warisan sang ibu melalui usaha Jamu Bu Mangun. Di tangannya, tradisi ramuan herbal keluarga tetap hidup dan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Berbeda profesi, berbeda tempat mengabdi, namun semuanya bertemu pada satu titik: meneruskan nilai-nilai yang diwariskan Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya.
Haul tahun ini juga dihadiri sejumlah ulama dan tokoh masyarakat. Dalam sambutan mewakili keluarga, Gus Isqowi menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para jamaah serta memohon doa bagi sang istri yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 5 Agustus 2026 agar ilmu yang diraih senantiasa membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi umat.
Haul Ke-30 ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang kiai tidak hanya tampak dari megahnya pesantren atau banyaknya murid yang dididik. Warisan terbesar seorang guru adalah ketika nilai-nilai yang ia tanamkan tumbuh dalam kehidupan anak-anaknya, lalu menyebar menjadi manfaat bagi masyarakat.
Hari itu, doa-doa dipanjatkan. Tetapi yang sesungguhnya tetap hidup adalah cahaya perjuangan KH. Mastur Asya — cahaya yang kini memancar melalui delapan putra-putrinya, masing-masing dengan jalan pengabdian yang berbeda, namun menuju tujuan yang sama: mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan. ( Admin )