KOPTAGUL MUHASABAH #003: Mengapa Grup WhatsApp Lebih Ramai daripada Musyawarah?
KOPTAGUL MUHASABAH #003
Mengapa Grup WhatsApp Lebih Ramai daripada Musyawarah?
"Humor yang Mengajak Berpikir, Analisis yang Menjernihkan, Muhasabah yang Meneduhkan."
Ada satu fenomena yang sampai sekarang belum pernah dibahas secara serius oleh para ahli komunikasi. Mengapa ketika musyawarah berlangsung, suasana bisa setenang masjid setelah shalat Subuh, tetapi begitu rapat selesai, grup WhatsApp mendadak berubah seperti pasar malam menjelang Lebaran?
Coba perhatikan. Ketua sidang berdiri sambil memegang mikrofon. Dengan wajah penuh harap beliau bertanya, "Bapak-bapak, adakah usul, saran, atau tanggapan?" Ruangan mendadak sunyi. Yang terdengar hanya suara AC, kipas angin, dan sesekali bunyi sendok mengaduk kopi. Semua menunduk dengan kekhusyukan yang hampir setara santri sedang menghafal Alfiyah Ibnu Malik. Ada yang sibuk membuka buku agenda, padahal yang dibuka halaman kosong. Ada yang menggeser gelas mineral ke kanan lalu ke kiri, seolah keputusan organisasi tersimpan di bawah gelas itu.
Setelah menunggu cukup lama, pimpinan sidang berkata, "Kalau tidak ada yang berpendapat, kita anggap semua setuju." Serentak kepala mengangguk. Kompak sekali. Kalau lomba mengangguk dijadikan cabang olahraga resmi, mungkin organisasi kita sudah langganan medali emas.
Rapat pun selesai. Doa kafaratul majelis dibaca. Semua saling bersalaman. Yang tadi berbeda kubu mendadak saling merangkul. Kamera ponsel diangkat. Senyum mengembang selebar spanduk Muktamar. Dari luar, semua tampak teduh. Bahkan kalau ada orang baru lewat, mungkin ia akan berkata, "Masya Allah... organisasi ini pasti tidak pernah punya masalah."
Tetapi... jangan buru-buru pulang.
Drama sesungguhnya biasanya baru dimulai setelah sandal dipakai.
Belum lima belas menit meninggalkan lokasi.
Ting... ting... ting...
Grup WhatsApp hidup kembali.
"Mohon izin, sebenarnya saya kurang sependapat..."
Lho... tadi mikrofonnya kurang keras atau keberaniannya yang masih di-mute?
Belum selesai membaca pesan pertama, muncul lagi pesan kedua.
"Kalau saya sih dari awal sebenarnya sudah punya pandangan..."
Masya Allah...
Pandangan itu rupanya baru selesai wudhu setelah rapat ditutup.
Yang lebih ajaib lagi, ada peserta yang selama tiga jam rapat hanya mengucapkan dua kalimat.
"Saya ikut forum."
Begitu sampai rumah, tulisannya berubah menjadi lima belas paragraf. Ada dalilnya. Ada sejarahnya. Ada teorinya. Ada catatan kaki yang hampir membuat notulen rapat minder. Kalau begini, jangan-jangan jempol memang memiliki tingkat keberanian yang lebih tinggi daripada mikrofon.
Kadang saya membayangkan, kalau WhatsApp sudah ada pada zaman pesantren klasik, mungkin sebagian santri tidak lagi antre sowan. Cukup kirim pesan, "Assalamu'alaikum Yai, izin berbeda pendapat. Mohon dibaca sampai selesai. Jangan di-skip." Untung para masyayikh dahulu mewariskan tradisi tabayyun, bukan tradisi forwarded many times. Kalau tidak, mungkin kitab yang terkenal hari ini bukan Fathul Mu'in, melainkan Fathul Screenshot fi Adabil Grup. He... he... sanadnya belum bersambung.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren atau organisasi keagamaan. Di kantor, kampus, organisasi profesi, bahkan arisan RT pun sering begitu. Saat forum berlangsung, semua terlihat teduh. Begitu pulang, komentar bermunculan lebih cepat daripada notulen dibagikan. Seolah-olah keberanian mempunyai jadwal kerja sendiri: masuk setelah rapat selesai.
Dalam ilmu komunikasi, Elisabeth Noelle-Neumann menyebut gejala ini sebagai Spiral of Silence. Banyak orang memilih diam ketika berada di forum karena khawatir pendapatnya berbeda dengan mayoritas. Baru setelah merasa aman, ia berani berbicara. Mungkin teori ini menjelaskan mengapa ruang sidang sering sunyi, sedangkan grup WhatsApp begitu riuh. Sementara Erving Goffman mengatakan bahwa manusia mempunyai front stage dan back stage. Di depan panggung kita menjaga citra, di belakang panggung kita lebih lepas. Hanya saja, jangan sampai grup WhatsApp berubah menjadi panggung belakang tempat adab ikut ditinggalkan.
Padahal pesantren sejak dahulu mengajarkan jalan yang sederhana. Kalau kurang jelas, tabayyun. Kalau kurang sepakat, musyawarah. Kalau hati mulai keruh, silaturahim. Sebab suara yang disampaikan langsung sering lebih jernih daripada seratus pesan yang dibaca dengan nada yang berbeda-beda. Teks tidak punya intonasi. Emoji tidak selalu bisa menggantikan senyuman. Dan tanda jempol belum tentu berarti hati benar-benar menerima.
Yang lebih lucu lagi, kadang kita lebih cepat mengetik "izin menanggapi" daripada benar-benar mengangkat tangan. Lebih ringan mengirim stiker daripada mengetuk pintu rumah sahabat. Bahkan ada yang hafal letak tombol reply, tetapi lupa letak rumah teman seperjuangannya.
Di sinilah KOPTAGUL MUHASABAH mengajak kita berhenti sejenak. Jangan-jangan yang kita takutkan bukan forum. Tetapi tatapan mata.
Jangan-jangan yang kita hindari bukan mikrofon.
Tetapi risiko untuk berbeda secara langsung.
Padahal keberanian yang paling elegan bukanlah keberanian mengirim pesan panjang setelah keputusan diambil. Keberanian yang paling indah adalah menyampaikan pendapat dengan adab ketika musyawarah masih memberi ruang untuk mendengar.
Karena organisasi tidak pernah runtuh hanya oleh perbedaan pendapat.
Organisasi mulai retak ketika orang lebih suka membahas saudaranya daripada berbicara kepada saudaranya.
Dan ukhuwah tidak pernah rusak karena banyaknya kritik.
Ukhuwah biasanya mulai rapuh ketika jempol bekerja lebih cepat daripada hati.
MUHASABAH KOPTAGUL
Mungkin yang perlu kita perbaiki bukan sinyal WhatsApp.
Tetapi sinyal hati.
Sebab musyawarah bukan sekadar mencari keputusan.
Musyawarah adalah latihan keikhlasan untuk didengar, sekaligus kerendahan hati untuk mendengar.
Kalau semua keberanian baru muncul setelah forum selesai, jangan-jangan yang sedang kita perjuangkan bukan kebenaran.
Melainkan kenyamanan. Dan sering kali... kenyamanan adalah tempat paling subur bagi lahirnya salah paham.
KOPTAGUL MUHASABAH #003
"Di grup WhatsApp, semua orang bisa menjadi penulis. Tetapi dalam musyawarah, hanya orang yang berani dan beradab yang menjadi pembelajar."
Penulis
Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah..