Benteng Itu Bernama Kepercayaan | KOPTAGUL MUHASABAH #004

Narasi 30 Jul 2026 17:29 5 min read 122 views By gusisqowi
Benteng Itu Bernama Kepercayaan | KOPTAGUL MUHASABAH #004
Benteng Peradaban Berdiri di Atas Ilmu dan Kepercayaan.

KOPTAGUL MUHASABAH #004 

Benteng Itu Bernama Kepercayaan 

Mari Menyeruput Muhasabah...

Temani tulisan ini dengan secangkir kopi. Semoga setiap tegukan menghangatkan tubuh, dan setiap renungan menghangatkan jiwa.

 

Konon, kalau ada rumah kemasukan maling, yang paling cepat datang sering kali bukan polisi, tetapi para ahli komentar. Ada yang menyalahkan pintunya, ada yang menyalahkan kuncinya, bahkan ada yang menyalahkan tukang bangunan yang memasang genteng belasan tahun lalu. He... he... malingnya belum tertangkap, tetapi seminar penyebab kemalingan sudah selesai sebelum kopi di meja sempat dingin. Rupanya, membuat kesimpulan memang lebih cepat daripada mencari kebenaran.

Begitulah dunia hari ini. Sebuah kabar baru muncul beberapa menit, tetapi pendapat sudah berhamburan ke mana-mana. Ada yang baru membaca judul, sudah merasa tahu seluruh isi cerita. Ada pula yang belum mengetahui duduk persoalannya, tetapi sudah sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Padahal fakta sering berjalan pelan, sementara prasangka naik kendaraan ekspres.

Dulu orang tua mengajarkan, "Kalau mendengar kabar, tabayyun dulu." Sekarang kadang berubah menjadi, "Kalau ada kabar, forward dulu." He... he... jempol memang luar biasa. Ia sanggup mengelilingi Indonesia dalam hitungan detik, meski pemiliknya belum tentu selesai membaca isi beritanya. Padahal tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang sepi itu keliru.

Persoalan menjadi jauh lebih serius ketika yang dibicarakan adalah ulama, kiai, habaib, ustadz, gus, atau pesantren. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nama seseorang, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang selama ini menjadi tempat belajar agama. Sekali kepercayaan retak, memperbaikinya tidak semudah mengganti foto profil atau menghapus sebuah unggahan.

Bayangkan sebuah mercusuar di tepi pantai. Puluhan tahun ia menjadi penunjuk arah bagi kapal-kapal yang berlayar pada malam hari. Lalu ada yang berteriak, "Jangan percaya lagi pada mercusuar itu!" Belum tentu mercusuarnya rusak, tetapi para pelaut mulai ragu mengikuti cahayanya. Ternyata, yang paling mudah dijatuhkan bukan bangunannya, melainkan kepercayaan orang terhadap bangunan itu.

Fenomena seperti ini ternyata sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan. Martin C. Libicki menyebutnya sebagai information warfare, yaitu ketika informasi dipakai bukan sekadar untuk menyampaikan berita, tetapi untuk memengaruhi persepsi dan keputusan masyarakat. Alvin dan Heidi Toffler bahkan mengingatkan bahwa pada era informasi, pengetahuan telah berubah menjadi sumber kekuatan yang tidak kalah penting dibanding kekuatan militer maupun ekonomi. Rupanya, perang hari ini tidak selalu memperebutkan wilayah, tetapi juga memperebutkan cara manusia melihat sebuah kenyataan.

Perkembangan teknologi digital membuat medan perang semakin bergeser. François du Cluzel dari NATO Innovation Hub memperkenalkan istilah cognitive warfare, yaitu ketika sasaran utamanya bukan lagi gedung atau wilayah, melainkan pikiran manusia. Robert Entman melalui teori framing menjelaskan bahwa cara sebuah peristiwa dikemas sering kali lebih menentukan daripada peristiwa itu sendiri. Fakta boleh sama, tetapi bingkainya bisa berbeda. He... he... ternyata yang berubah kadang bukan peristiwanya, melainkan kacamata yang dipakai untuk melihatnya. 

Imam Al-Ghazali telah mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak hanya diukur dari megahnya bangunan atau banyaknya pengikut, tetapi dari hidupnya ilmu, akhlak, dan integritas. Dalam Ihya' Ulum al-Din, beliau bahkan mengkritik ulama yang menjadikan ilmu sebagai tangga menuju kepentingan dunia. Artinya, benteng umat memang harus dijaga dari luar, tetapi juga harus dibersihkan dari dalam. Integritas adalah fondasi yang tidak boleh retak.

He... he... kalau dulu benteng dijaga oleh prajurit, sekarang benteng juga dijaga oleh jempol. Satu kali forward yang ceroboh mungkin tidak terasa. Tetapi ribuan forward tanpa tabayyun bisa berubah menjadi badai yang merobohkan marwah seseorang. Karena itu, jangan sampai kita menjadi "relawan" yang bekerja tanpa sadar untuk menyebarkan kabut di tengah umat.

Muhasabahnya sederhana. Sebelum menekan tombol forward, tanyakan kepada hati, "Apakah berita ini mendekatkan saya kepada kebenaran, atau hanya menambah keramaian?" Sebab tidak semua yang ramai membawa manfaat, dan tidak semua yang sunyi kehilangan cahaya. Di pesantren, banyak kiai yang tidak dikenal media sosial, tetapi ilmunya terus hidup melalui murid-muridnya. Cahaya memang tidak selalu mencari panggung.

Akhirnya, benteng umat bukan hanya masjid, pesantren, atau sosok ulama. Benteng terbesar adalah kepercayaan yang dibangun oleh ilmu, dijaga oleh akhlak, dan dirawat dengan keadilan. Ketika ulama menjaga integritasnya, pesantren menjaga marwahnya, dan umat menjaga lisan serta jempolnya, insya Allah benteng itu akan tetap kokoh menghadapi zaman yang terus berubah. 

MUHASABAH KOPTAGUL

Benteng yang paling kokoh bukan selalu yang terbuat dari batu. Melainkan yang dibangun oleh ilmu, akhlak, integritas, dan kepercayaan. Karena itu, sebelum ikut menyebarkan sebuah kabar, jangan hanya bertanya, "Apakah ini menarik?" Tetapi bertanyalah, "Apakah ini benar, adil, dan membawa maslahat?" Sebab yang paling mudah runtuh bukan tembok pesantren. Melainkan kepercayaan yang hidup di dalam hati manusia.

KOPTAGUL MUHASABAH #004

"Di zaman perang informasi, benteng pertama yang harus dijaga bukan pagar rumah, melainkan cara berpikir dan kejernihan hati. Sebab ketika kepercayaan runtuh, tembok yang paling kokoh pun tidak lagi berarti."

Terima kasih telah menyeruput muhasabah hari ini.

Semoga Allah melembutkan hati, meluruskan niat, dan membimbing langkah kita untuk terus PULANG kepada-Nya.

 

Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah..

Chat with us on WhatsApp