Belajar untuk Menjadi (Tahniah untuk Prof. Hasani)
Belajar untuk Menjadi (Tahniah untuk Prof. Hasani)
Richard Carlson, seorang penulis dan motivator beken asal California Amerika, dalam buku 'What About the Big Stuff?' menulis satu tulisan sederhana dengan subjudul ‘Become a Healing Force’, sederhananya dapat diterjemahkan ‘menjadi kekuatan yang menyembuhkan’. Tulisan tersebut bukan dimaksudkan untuk menggambarkan seorang dokter apalagi dukun, namun Carlson ingin menjelaskan bahwa menjadi kekuatan yang menyembuhkan artinya anda atau kita semua menjadi orang yang dapat diandalkan oleh orang lain.
Apa yang ditulis Carlson juga tidak ada hubungan langsung dengan Hasani Ahmad Said, sosok yang akan sedikit saya capture dalam tulisan singkat ini, sebagai bentuk ungkapan turut berbahagia sekaligus mengucapkan selamat atas capaian gelar akademiknya sebagai guru besar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ungkapan dan ucapan ini disampaikan setidaknya karena ia lahir dari almamater yang sama yaitu Al-Khairiyah Karangtengah, dan mungkin menjadi Profesor pertama dari almamater tersebut. Selain tentu saja, ia merupakan salah satu Presidium IKAMAH (Ikatan Alumni Al-Khairiyah Karangtengah).
Gambaran ‘Become a Healing Force’ disampaikan karena menelisik perjalanannya baik berdasarkan hasil pengamatan atau saat ia bercerita secara langsung kepada saya, ia mengambil peran dan tampil menjadi orang yang diandalkan (dalam makna positif) selama studi dan berkiprah di UIN Jakarta. Hal yang diandalkannya terutama modal suara yang merdu dan cakap dalam membaca Alquran. Saya kira ini menjadi kekuatan awal terbesarnya yang menjadikan ia selalu ‘thawaf’ memenuhi panggilan ummat. Tidak berhenti dengan merdu dan cakapnya membaca Alquran, ia kemudian meningkatkan dengan mengasah kemampuan ceramah dan juga menulisnya, sampai ‘thawaf’nya terus beredar di layar kaca. Perjalanannya baik selama di UIN Jakarta maupun saat transit di UIN Lampung, ia menjadi orang yang diandalkan untuk mengambil peran sebagai qori, penceramah dan penulis.
Selain para dosen, senior dan rekan-rekannya di UIN Jakarta yang tentu telah berkontribusi dalam kiprah dan karirnya, saya berpandangan bahwa guru ngaji Alqurannya (sehingga menjadi qori) dan Kiai, ustadz serta guru-gurunya di pesantren Nurul Qomar serta madrasah Al-Khairiyah Karangtengah telah memberikan andil besar dalam perjalanan karir dan kiprah Prof. Hasani. Dari itu semua, orang tuanya tentu menjadi tiang utama atas capaian prestisius Prof. Hasani.
Tulisan singkat ini baru sekedar untuk muqodimah. Sekali lagi, saya Nurdin Sibaweh mengucapkan selamat, atas amanah ‘value’ yang diemban saat ini. Teruslah menginspirasi dan menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga ilmunya senantiasa memberi manfaat bagi masyarakat. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan, agar tetap hadir ditengah-tengah ummat. Terima kasih. ( Dr. Nurdin Sibaweh )