KOPTAGUL MUHASABAH #001: Muktamar Mencari Apa? Ketua Umum PBNU Bukan Kiai Nomor Satu
KOPTAGUL MUHASABAH (Kopi Tanpa Gula Sambil Muhasabah)
MUKTAMAR MENCARI APA?
Menjelang Muktamar NU, suasana mulai menghangat. Ternyata proses penjaringan calon tidak semulus jalan tol. Ada yang mengukur peluang, ada yang mengukur dukungan, bahkan mungkin ada yang mulai mengukur ukuran panggung. Muktamar kali ini rasanya agak pahit... sepahit kopi tanpa gula. Tapi tenang, yang pahit belum tentu tidak nikmat. Buktinya banyak yang tetap nambah secangkir.
Yang menarik, di tengah berbagai dinamika itu, ada kesan seolah-olah Muktamar sedang mencari kiai number one. Seakan-akan setelah terpilih, semua kiai harus " update status " : mulai hari ini saya turun satu tingkat. Lah, memang kewibawaan memakai sistem peringkat?
Padahal Ketua Umum PBNU adalah pemimpin organisasi, bukan juara umum perlombaan kewalian. Jabatan diperoleh melalui Muktamar. Adapun kewibawaan seorang kiai lahir dari perjalanan ilmu, sanad, akhlak, dan pengabdian yang panjang. Yang satu dipilih dengan suara, yang satu lagi tumbuh karena masyarakat berkata, "Kalau urusan ini, kita sowan ke beliau saja."
Kalau memakai bahasa anak muda, Ketua Umum itu administrator jam'iyah. Sedangkan menjadi guru para kiai tidak ada formulir pendaftarannya. Tidak ada fit and proper test. Apalagi tes CAT.
Di pesantren bahkan dikenal istilah kiai mastur. Kiai yang lebih senang bersembunyi daripada tampil. Menariknya, penulis jadi teringat kepada almarhum Abah penulis sendiri , KH Mastur Allohu Yarham ( Pengasuh Pondok Al - Ikhlash Bawang, Batang, Jawa Tengah). Jangan-jangan istilah kiai mastur memang sudah jodohnya dengan nama Mastur. Bedanya, kalau "mastur" dalam istilah berarti tersembunyi, sedangkan Abah Penulis memang lebih memilih dikenal Allah daripada dikenal manusia. Kebetulan, beberapa hari lagi, 2 Agustus 2026, keluarga , santri dan alumni akan memperingati haul beliau. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan meninggikan derajat beliau. Aamiin.
Kiai-kiai seperti inilah yang sering tidak tampak di depan layar, tetapi menjadi tempat bertanya ketika persoalan sudah tidak bisa diselesaikan hanya dengan rapat. Mereka tidak mengejar mikrofon, tetapi ketika berbicara, mikrofon seolah ikut mendengarkan.
Di pesantren juga ada ungkapan, ada kiai di atas kiai. Jangan buru-buru salah paham. Ini bukan kasta. Apalagi sistem promosi jabatan. Maksudnya sederhana: hirarki organisasi tidak selalu sama dengan hirarki keilmuan. Ketua umum bisa saja tetap menjadi santri di hadapan gurunya. Dan guru itu mungkin tidak punya jabatan apa-apa di struktur.
Max Weber menyebut ada otoritas legal, tradisional, dan karismatik. Di NU, ketiganya hidup berdampingan. Yang legal mengurus organisasi. Yang tradisional menjaga sanad. Yang karismatik menjaga hati umat. Kalau ketiganya akur, NU teduh. Kalau dicampur-campur, yang muncul malah debat yang tidak ada di kitab kuning.
Karena itu, jangan sampai Muktamar dipersepsikan sebagai ajang mencari "mahkota para kiai". Kalau benar begitu, panitia pasti kewalahan membuat kriterianya. Apakah yang paling banyak santrinya? Yang paling panjang sanadnya? Yang paling banyak kitab yang dikaji? Atau yang paling sering rumahnya didatangi para kiai lain tanpa perlu membuat janji?
Di sinilah indahnya NU. Jabatan itu penting, tetapi bukan segala-galanya. Struktur dijaga agar organisasi berjalan. Tradisi dijaga agar ruhnya tidak hilang. Sebab, di dunia pesantren, semakin tinggi ilmu seseorang, biasanya semakin ringan ia menyebut dirinya hanya seorang santri.
Jadi, Muktamar bukan sedang mencari siapa yang paling tinggi di antara para kiai. Muktamar sedang mencari siapa yang paling siap memikul amanah melayani jam'iyah. Karena dalam tradisi ulama, yang berebut kedudukan belum tentu yang paling pantas. Justru yang sering menghindar, kadang itulah yang terus dicari.
Begitulah KOPTAGUL MUHASABAH hari ini. Pahitnya bukan karena kopinya. Tapi karena kadang kita masih mencampuradukkan jabatan dengan keberkahan, struktur dengan sanad, dan kepemimpinan organisasi dengan kemuliaan ilmu.
Penulis
Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.