KOPTAGUL MUHASABAH #002: Yang Sulit Itu Bukan Memilih Ketua, Tetapi Menghapus Bekasnya
KOPTAGUL MUHASABAH #002
Yang Sulit Itu Bukan Memilih Ketua, Tetapi Menghapus Bekasnya
"Humor yang Mengajak Bermuhasabah"
Setiap organisasi besar pasti pernah mengalami perbedaan pendapat. Kalau semua selalu sepakat, kemungkinan hanya ada dua. Organisasinya memang sangat kompak... atau peserta rapatnya sudah lapar semua sehingga ingin cepat pulang.
Perbedaan pendapat sebenarnya bukan masalah. Bahkan dalam dunia akademik, perbedaan adalah tanda kehidupan. Yang agak merepotkan justru ketika rapat sudah selesai, kepengurusan sudah terbentuk, tetapi rasa kurang enaknya masih ikut diperpanjang.
Konflik organisasi kadang seperti kopi tubruk. Sudah diaduk berkali-kali, dikira semuanya sudah larut. Ternyata setelah cangkir hampir habis, ampasnya masih ada di dasar. Rupanya yang larut hanya kopinya, sedangkan endapannya masih menunggu kesempatan untuk muncul lagi.
Begitu pula dalam kehidupan organisasi. Pergantian kepengurusan bisa selesai dalam hitungan hari. Pelantikan berlangsung khidmat. Program kerja mulai disusun. Foto bersama sudah diunggah ke media sosial. Tetapi menyatukan kembali hati yang sempat berjarak, ternyata tidak semudah menyusun struktur pengurus.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di satu organisasi. Hampir semua organisasi besar mengalaminya, termasuk organisasi keagamaan, politik, profesi, maupun kemasyarakatan. Semakin panjang sejarahnya, semakin banyak pula jejak emosional yang ikut tersimpan.
Dalam ilmu resolusi konflik, Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin menjelaskan bahwa konflik biasanya berawal dari issue conflict, yaitu perbedaan pendapat mengenai suatu persoalan. Ini masih sehat. Orang berbeda pandangan tentang program, aturan, strategi, atau kebijakan.
Yang mulai berbahaya adalah ketika konflik berubah menjadi relationship conflict. Yang dipersoalkan bukan lagi usulannya, tetapi siapa yang mengusulkan. Bukan lagi gagasannya, tetapi orangnya. Kalimat "Saya kurang sependapat dengan program ini" perlahan berubah menjadi "Memang dari dulu beliau begitu".
Nah, kalau sudah sampai di sini, rapat tinggal menyelesaikan agenda. Yang belum selesai justru isi hati para pesertanya.
Organisasi sebesar NU, Muhammadiyah, partai politik, kampus, organisasi profesi, bahkan perusahaan bisa mengalami pola yang sama . Di lingkungan NU, tantangan ini menjadi lebih kompleks. Sebab NU bukan sekadar organisasi modern yang diikat oleh AD/ART. NU juga tumbuh dari tradisi pesantren yang dipenuhi hubungan guru dan murid, sanad keilmuan, persahabatan lintas generasi, bahkan hubungan kekeluargaan.
Karena itu, ketika terjadi perbedaan di tingkat organisasi, sering kali yang ikut bergerak bukan hanya struktur, tetapi juga jejaring emosional. Santri ikut merasakan apa yang dirasakan gurunya. Alumni pesantren ikut mengikuti dinamika para masyayikhnya. Hubungan organisasi akhirnya bersinggungan dengan hubungan batin.
Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit. Konflik yang semula hanya menyangkut keputusan organisasi perlahan berubah menjadi persoalan perasaan. Kritik terhadap kebijakan mulai dianggap sebagai kritik terhadap kehormatan seseorang. Dukungan terhadap keputusan berubah menjadi ukuran loyalitas kepada figur.
Sosiolog Lewis A. Coser mengingatkan bahwa konflik sebenarnya tidak selalu buruk. Konflik dapat menjadi sarana memperbaiki organisasi, memperjelas persoalan, bahkan memperkuat solidaritas. Tetapi syaratnya satu: yang diperdebatkan adalah masalahnya, bukan martabat orangnya.
Friedrich Glasl menggambarkan eskalasi konflik seperti orang menuruni tangga. Pada awalnya masih saling berdialog. Lama-kelamaan mulai saling menyalahkan. Setelah itu saling menjatuhkan. Pada tahap yang lebih rendah lagi, orang rela sama-sama rugi asalkan lawannya lebih rugi. Kalau sudah begini, organisasi tidak lagi sibuk mencari solusi, tetapi sibuk menghitung kemenangan.
Kadang yang membuat kita tersenyum justru fenomena setelah konferensi selesai. Yang berganti sudah banyak. Ketua berganti. Sekretaris berganti. Stempel berganti. Kop surat berganti. Bahkan foto profil WhatsApp pun berganti. Yang belum tentu berganti hanya cara kita memandang orang yang kemarin berbeda pilihan.
Dalam psikologi sosial, Henri Tajfel menjelaskan bahwa manusia mudah membangun identitas kelompok. Ketika merasa menjadi bagian dari suatu kubu, tanpa sadar kita mulai melihat kelompok sendiri selalu lebih baik, sementara kelompok lain lebih mudah dicurigai. Akibatnya, kritik terdengar seperti serangan, sedangkan pujian kepada pihak lain terasa seperti ancaman.
Padahal di pesantren kita diajarkan sesuatu yang jauh lebih indah. Hari ini boleh berbeda pendapat. Besok tetap duduk satu saf. Tadi siang boleh berdebat di ruang sidang. Malamnya tetap saling mendoakan setelah shalat berjamaah. Perbedaan tidak pernah dijadikan alasan untuk memutus silaturahim.
Mungkin inilah yang perlu terus dirawat di lingkungan NU. Yang perlu diselesaikan bukan hanya persoalan administrasi, tetapi juga hubungan antarmanusia. Sebab keputusan organisasi dapat disahkan dengan ketukan palu. Tetapi memulihkan kepercayaan memerlukan ketukan hati.
Muktamar, Konferensi, atau Musyawarah pada akhirnya hanyalah sarana memilih pengurus. Sedangkan menjaga ukhuwah adalah pekerjaan yang tidak pernah mengenal masa bakti.
Muhasabah KOPTAGUL
Yang paling berat dalam organisasi ternyata bukan memilih ketua.
Yang paling berat adalah tetap mampu tersenyum kepada sahabat yang kemarin berbeda pilihan.
Sebab jabatan selalu mengenal periode.
Tetapi persaudaraan seharusnya tidak mengenal batas waktu.
Kalau yang kita menangkan hanya kursi, mungkin kita sedang menang dalam organisasi.
Tetapi kalau yang berhasil kita jaga adalah hati, insya Allah kita sedang menang dalam ukhuwah.
- KOPTAGUL MUHASABAH #002 -
"Organisasi yang besar bukan organisasi yang tidak pernah berkonflik. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu mengubah konflik menjadi kedewasaan, dan perbedaan menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah."
Penulis
Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah..