Sewa Panggung Cuma Buat Menghibur Tetangga

Narasi 10 Oct 2026 07:11 • 5 min read • 108 views • By Gus Isqowi
Sewa Panggung Cuma Buat Menghibur Tetangga
Menyeruput Muhasabah: Ketika Panggung Gengsi Meruntuhkan Fondasi.

KOPTAGUL MUHASABAH #007

Sewa Panggung Cuma Buat Menghibur Tetangga

Mari Menyeruput Muhasabah... 

  • Temani tulisan melek ini dengan secangkir kopi. Semoga setiap tegukan menghangatkan tubuh, dan setiap renungan menghangatkan jiwa.

Pernah lihat kejadian di kampung pas musim hajatan? Ada warga yang sehari-hari ke sawah naik sepeda tua, tapi pas melamarkan anaknya, nekat menyewa iring-iringan mobil mewah lengkap sama sound system selapangan. Waktu ditanya tetangga sebelah kenapa tidak bikin acara yang bersahaja saja sesuai kantong, dia cuma menepuk dada sambil nyengir, "Walah, Kang... Rugi kalau acara sekali seumur hidup cuma biasa-biasa saja. Biar tekor yang penting tersohor!" He... he...

Guyon tipis khas pos ronda ini sering bikin kita tertawa miris. Tapi fenomena  biar tekor asal tersohor ini terasa makin menyengat di mata seorang guru ngaji.

Beliau sendiri lahir dan besar di sebuah kampung kecil di lereng Gunung Prau—sebuah kampung asri yang jaraknya hanya setengah jam perjalanan dari kawasan wisata Dieng, Jawa Tengah. Kampung halaman yang baru saja sekitar setengah bulan lalu diuji musibah keracunan massal MBG (Makan Bergizi Gratis), hingga tidak kurang dari 300 siswa menjadi korban akibat salah urus program, sampai-sampai Wakil Presiden turun langsung meninjau lokasi. 

Setelah merantau dan menetap lebih dari 26 tahun di tengah kompleks perkotaan  yang serba individualis, kini hampir dua tahun beliau memilih mukim di sebuah kampung pinggiran Jakarta, tepatnya di Kota Tangerang Selatan . Dari sudut kampung pinggiran inilah beliau memperhatikan dengan cermat bagaimana dinamika warga di sekitarnya bergerak.

Dari pengamatan tajam sang guru ngaji, racun gengsi dan keharusan divalidasi ini tidak cuma hadir di pesta hajatan, tapi sudah merembet bahkan sampai ke urusan musibah kematian. Ketika ada warga yang meninggal dunia, bukannya fokus pada doa dan rasa duka yang murni, sebagian keluarga justru sibuk mencemaskan tanggapan orang lain. Mulai dari jenis tenda yang dipasang, besarnya konsumsi untuk para pelayat, hingga suguhan tahlilan—semuanya dikalkulasi agar tidak dituduh 'pelit' atau 'kurang mampu' oleh tetangga. Sungguh tragis, di saat air mata duka belum kering, beban finansial dan gengsi sosial justru datang menghimpit.

Inilah fenomena yang pelan-pelan menjadi racun sunyi: kita rela menukar ketenangan hidup dengan tepuk tangan atau penilaian orang lain yang bakal mereda sebelum lampu panggung dipadamkan. Topeng megah sengaja dipasang di atas fondasi rumah yang sejatinya sudah retak. Acara adat, hajatan, hingga peringatan duka yang dulunya menjadi sarana silaturahmi yang sakral, kini bergeser menjadi panggung akrobatik gengsi. Ada dorongan cemas untuk terlihat 'utuh' dan berkecukupan di mata publik, padahal di balik layar, tabungan sudah terkuras habis. 

Dalam kajian sosiologi, perilaku ini sejalan dengan teori conspicuous consumption dari Thorstein Veblen—sebuah kondisi di mana orang membeli atau memperagakan sesuatu bukan karena butuh fungsi materinya, melainkan demi memamerkan status sosial. Ditambah lagi dengan teori framing yang dijelaskan Robert Entman, di mana tekanan lingkungan sosial membungkus gengsi seolah-olah sebagai 'harga diri keluarga'. Padahal, itu bukan lagi urusan martabat, melainkan kecemasan mendalam akan stigma dan ketakutan dirasani tetangga. Demi memelihara kehormatan semu itu, jerat utang pun akhirnya diikhlaskan.

Sungguh sebuah paradoks yang pedih di tingkat tapak: makin rapuh kondisi ekonomi seseorang, makin besar kebutuhan psikologisnya untuk memperagakan kemewahan. Validasi sosial dijadikan perisai palsu untuk menutupi kenyataan hidup yang kian menganga.

Kalau kita merujuk pada khazanah kitab kuning, Syekh Ibn 'Atha'illah dalam Al-Hikam pernah menegaskan bahwa salah satu bentuk kebodohan paling nyata adalah muthalabatun-nas—selalu sibuk menuntut dan mengharapkan pengakuan dari sesama makhluk. Beliau mengingatkan bahwa kedudukan di mata manusia itu ibarat bayangan: makin kita kejar, makin kita lelah sendiri. Ketika kita menukar kedamaian keluarga demi sebungkus pujian orang lain, kita sedang memperjualbelikan kedaulatan hidup dengan ilusi yang sangat murah. 

Lalu kita mengelus dada di teras rumah. Dulu orang tua kita di kampung bikin hajatan atau mengurus musibah duka cukup dengan gotong royong warga, makan seadanya, yang penting doa dan berkahnya. Sekarang, orang rela menyewa martabat lewat pinjaman modal hanya agar tidak diledek 'kurang berada' oleh sepupu atau tetangga beda RT. Bedanya, kehangatan gotong royong zaman dulu meninggalkan persaudaraan, sedangkan panggung gengsi zaman sekarang cuma meninggalkan tagihan yang bikin gelisah tiap malam.

Kini saatnya kita berhenti sejenak dan melakukan muhasabah. Sudah berapa banyak hal dalam hidup kita yang dikorbankan hanya demi menuruti penilaian orang lain? Apakah kita sedang sungguh-sungguh membangun ketahanan keluarga, atau justru sibuk menyewa panggung ilusi yang bikin kita sengsara di kemudian hari? 

Memutus lingkar takdir ini tidak butuh teori yang ruwet, melainkan keberanian moral untuk bersahaja. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah diukur dari seberapa riuh pesta yang kita gelar atau seberapa megah penguburan yang kita peragakan, melainkan dari seberapa tenang hati kita saat mematikan lampu rumah di malam hari.

Sebab pada akhirnya, tetangga yang memuji panggung kita tidak akan ikut membayar cicilan utangnya. Mengembalikan tradisi dan ritual hidup pada nilainya yang murni—yaitu menautkan kasih sayang dan keikhlasan, bukan menuntut pengorbanan yang merusak—adalah jalan terbaik untuk menemukan kembali jalan pulang. 

MUHASABAH KOPTAGUL

  • Ketakutan terbesar kita sering kali bukanlah menjadi miskin, melainkan terlihat miskin di hadapan orang lain. Bahkan dalam duka kematian pun, jangan pernah menukar ketenangan masa depan keluargamu hanya demi menyewa panggung gengsi semalam. 

KOPTAGUL MUHASABAH #007

  • Secangkir kopi di teras rumah jauh lebih nikmat daripada pesta megah yang bikin tidur tak tenang.

Terima kasih telah menyeruput muhasabah hari ini. 

Semoga Allah melembutkan hati, meluruskan niat, dan membimbing langkah kita untuk terus PULANG kepada-Nya. 

Penulis 

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.

Chat with us on WhatsApp