Acara penyerahan kartu BPJS Ketenaga kerjaan sekaligus pembinaan metode mengajar Al-Qur'an ini jauh dari sekadar seremoni birokrasi, momentum ini adalah langkah taktis memanusiakan para pejuang sunyi yang selama ini mendidik generasi bangsa hampir tanpa pamrih.
Hadirnya jajaran BPJS Ketenagakerjaan, BAZNAS, Kementerian Agama, hingga jajaran elit Pemerintah Kota Tangerang Selatan di ruang yang sama menegaskan satu hal: ketika semua elemen mau meluruhkan ego sektoral, kesejahteraan umat bukan lagi sekadar jargon politik.
Ketua IPQ Kota Tangerang Selatan, Ustadz Amin Chumaidi, menegaskan bahwa gerakan ini adalah benteng pertahanan bagi para ustadz dan ustadzah. "Anggota IPQ di Tangsel ini jumlahnya masif, lebih dari seribu orang yang tersebar di lorong-lorong kampung, di TKQ dan TPQ. Hari ini, berkat sokongan BAZNAS Tangsel, 250 guru resmi memiliki jaminan sosial. Ini awal, kami tidak akan berhenti sampai seluruh guru Al-Qur'an di kota ini terlindungi," tegasnya dengan nada bertenaga.
Namun, memuliakan guru TPQ tidak melulu soal jaminan finansial dan risiko kerja. IPQ paham betul bahwa tantangan zaman terus menggerus fokus anak-anak modern. Oleh karena itu, LPTQ Kota Tangerang Selatan hadir menyuntikkan amunisi metodologi lewat Ustadzah Atikah. Materi yang dibawakannya laksana oase: mengubah dogma mengajar konvensional menjadi pendekatan yang atraktif, komunikatif, dan menyenangkan. Guru TPQ dipacu untuk tidak kalah menarik dari gawai di tangan anak-anak era digital.
Di barisan paling depan , atmosfer formal itu mencair. Dewan Pembina IPQ Kota Tangerang Selatan, Ust. Ir. H. Ali Akbar, M.Si., M.M., tampak berbincang santai dengan pembina GPS Tangsel ( Gerakan pejuang Subuh Tangerang Selatan ) berdampingan dengan ketua dan segenap pengurus IPQ Tangsel .

Selepas acara, sembari menyesap secangkir kopi hangat yang mengepul, tatapan matanya menerawang tajam, merefleksikan beban sekaligus harapan besar yang dipikul organisasi ini. Baginya, Al-Qur'an bukan sekadar program kerja musiman, melainkan detak nadi perjuangan hidup.
"Saya merasa sangat berdosa jika tidak ikut terlibat dalam dunia pengembangan Al-Qur'an ini. Sadar atau tidak, guru-guru TPQ adalah penjaga cahaya peradaban kita. Dari ketelatenan mereka yang digaji seadanya, lahir anak-anak yang tahu cara bersujud, mencintai masjid, dan berakhlak mulia. Sudah saatnya kita berhenti menutup mata; mereka butuh proteksi, penghargaan, dan dukungan konkret, bukan sekadar ucapan terima kasih," Ujarnya penuh harap .
Sinergi yang tercipta di Ruang Blandongan hari ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Tangerang Selatan. Kartu BPJS Ketenagakerjaan di tangan para guru bukan sekadar lembaran plastik, melainkan simbol peradaban yang mulai tahu cara berterima kasih. Ketika para penjaga firman ini diringankan bebannya dan dipertajam pengetahuannya, maka otomatis cahaya Al-Qur'an akan menyala lebih benderang, mengusir kegelapan moral yang mengancam masa depan Tangerang Selatan.